membaca tulisan teman saya yang berinisial d-u-l tentang skripsot membuat saya ingin menyampaikan beberapa buah kalimat. well, ini bukan pidato atau protes atau kampanye-anti, tapi cuman sekedar gagasan.
skripsi. satu kata beribu makna, berjuta kesan bagi siapa saja yang sedang berhadapan dengannya. setau saya, mayoritas (entah berapa jumlahnya) fakultas dan jurusan di universitas di Indonesia mewajibkan mahasiswanya untuk menyelesaikan skripsi sebagai syarat kelulusan. sisanya, mahasiswa ditawarkan atas dua pilihan: skripsi atau proyek. Fakultas saya mewajibkan kami, mahasiswa S1, menyelesaikan skripsi.
bagi saya, skripsi bukan masalah. toh, ia hanya lah tugas kuliah yang bebannya lebih berat dua kali lipat. itu saja. bukannya bermaksud sombong atau meremehkan, tidak. pada dasarnya saya suka melakukan riset atau mengobservasi sebuah obyek (walau kadang absurd). saya pun suka mencari tahu banyak hal karena itu lah saya suka membaca. yah, alasan klise ini emang jadi faktor ketidakberatan saya dalam mengerjakan skripsi.
tapi, ada beberapa (dan mungkin) banyak mahasiswa yang merasa terlalu berat mengerjakan skripsi. terlepas apapun alasannya. contoh mudah adalah teman-teman saya yang hampir selalu mengeluh saat dihadapkan oleh mata kuliah ini. alhasil, pada saat proposal skripsi (pengajuan judul skripsi, bab I & seminar), hasil yang dikeluarkan pun tidak maksimal. banyak judul skripsi yang itu-itu aja, bakal riset yang gak signifikan, proposal yang amburadul, dan kritik lain. entah siapa yang harus disalahkan atas kejadian ini. semakin dipikir saya semakin bingung.
sempat terlintas di benak saya bahwa skripsi itu bisa jadi kekerasan yang dilakukan oleh institusi pendidikan formal yang bernama universitas. kekerasan, kalau kata Galtung, terjadi saat manusia dipengaruhi sedemikian rupa sehingga realisasi jasmani dan mental aktualnya berada dibawah realisasi potensialnya. dan hey, skripsi dapat membatasi potensi mahasiswa yang sebenarnya! belum lagi tekanan sana sini yang makin membuat mahasiswa jatuh saat mengerjakan skripsi.
banyak sekali skripsi-skripsi yang jelek atau bahkan gak selesai. lebih buruk lagi, skripsi bisa dikerjakan oleh orang lain. ayo lah, itu dapat membuktikan bahwa pekerjaan yang tidak dilakukan yang sesuai dengan passion bakal gak maksimal, termasuk pengerjaan skripsi. saya bukannya mau mencemooh teman-teman yang seperti itu, TIDAK! saya hanya menyayangkan kemampuan mereka di bidang lain seperti pengerjaan proyek ketimbang mengerjakan skripsi. ya ya, aku tau pendapatku ini cukup dangkal dan tidak terlalu cukup untuk menjelaskan fenomena itu. tapi, yang jelas, menurut saya, mahasiswa seharusnya diberikan pilihan alternatif sebagai syarat kelulusan. tentunya pilihan itu harus menjadi 'triger' dan porto polio bagi mahasiswa.
salam,
Budi Islami
skripsi = kekerasan?
This entry was posted on Tuesday, December 18, 2012 and is filed under Uneg2. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Welcome to the club ilmi :)
ReplyDeletewell. tema nya Skripsi lagi nih.
Saya setuju kalo skripsi seharusnya dipilih sesuai passion. bukan sekedar syarat kelulusan. Toh ini karya terakhir kita kan as mahasiswa. Harusnya bisa bener bener bermanfaat buat Indonesia *aseeeek*
iki komenmu isok disuka gak? (maksude dilike) hehe
ReplyDelete